Hamparan
bintang memeluk bumi. Langit cerah dikala malam yang gulita. Namun, gemerlap
bintang seakan menjadi bayang semu di pelupuk mata. Hanya ada rintihan qalbu
yang merasakan kerinduan di sisa kehidupan. Rindu yang tak bisa terlukiskan
oleh hal apapun. Sosok makhluk mulia yang senantiasa dirahmati Sang Maha Rahim. Seorang insan yang menjadi figur
bangsa, panutan alam. Menjadi sosok pejuang islam akhir zaman yang
pengorbanannya takkan bisa terbalaskan oleh siapapun.
Kala
mata terpejam. Lisan terucap asma-Mu Sang Maha Rahim. Jemari bertasbih. Hati
menjerit. Menginginkan keinginan bisa terwujud. Bertemu sang pujaan hati. Sang
pujaan ummat. Sang pengikis habis ajaran komunis,
kapitalis dan liberalis. Sang pemisah antara hak dan bathil. Rosulullah uswatun hasanah. Tak ada lagi yang
terpatri dalam hati sanubari. Tak ada lagi yang terbesit dalam angan. Ialah
satu-satunya Rahmatan Lil’alamiin.
Keinginan tanpa perjuangan,
takkan ada artinya dan takkan pernah terwujud. Kerinduan yang tulus akan memacu
seseorang untuk berjuang demi keinginan yang dicita-citakannya. Katakanlah :
“Aku ingin bertemu Rasulullah”. Suatu kalimat yang mudah diucapkan. Namun perjuangan tak semudah pekataan. Tak
semudah membalikan telapak tangan. Butuh proses untuk mewujudkannya. Hanya ketaqwaan dan keimanan yang sejati. Menta’ati dan
mengamalkan segala sunnahnya. Bahkan Beliau
pun bersabda : “Barang siapa yang menghidupkan sunnah-Ku, ia berarti
mencintai-Ku. Dan barang siapa yang mencintai diri-Ku, akan bersama-Ku di
syurga nan indah”.
Dua pusaka yang telah Engkau
wariskan. Al-Karim dan As-Sunnah. Al-Karim yakni Al-Quran
sebagai pedoman kehidupan dan sebagai ideologi ummat. As-Sunnah yakni hadits
Nabi sebagai ketentuan-ketentuan yang telah dicontohkan
Nabi untuk kehidupan manusia agar mereka senantiasa berada di jalan yang lurus. Kata demi kata yang tergelincir dari
lisan pujaan terkasih Sang Maha Rahim,
tak ada sepatah pun yang bermakna
bathil. Sabda-sabda sucimu menggema di setiap qalbu insan-insan di muka bumi. Menusuk relung, mendobrak awan yang berarak.
Rasa ini selembut salju namun terasa hangat. Ajaranmu membawa manusia agar bisa mengenali Tuhannya.
Ialah utusan ‘azza wajalla yang waktu kelahirannya banyak sekali
keajaiban yang sangat menggemparkan alam dan seisinya. Di belahan bumi manapun
tak ada yang tidak memperingati bulan kelahirannya. Sosok bayi yang suci,
tampan dan rupawan yang senantiasa menjadi seorang maharaja yang gagah perkasa
di masa dewasanya. Sosok pejuang yang telah berhasil mengubah kota Makkah yang
asalnya jahiliyyah menjadi Makkah yang penuh berkah. Betapa agungnya akhlak
beliau. Jangankan kepada pejabat yang memiliki pangkat ataupun konglomerat
sekalipun, kepada rakyat melarat pun beliau selalu hormat.
Sungguh rasa rindu yang menusuk
jiwa. Tiada obat yang dapat menyembuhkannya . Selain berjumpa dengannya. Tak
ada lagi kata yang pantas diucapkan yang keluar dari lidah seorang hamba yang
penuh dosa. Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan keselamatan kepada
junjungan-Nya. Mari kita bersama-sama mendawamkan shalawat kepada Nabi SAW agar
kita bisa mendapatkan syafa’atul ‘udzma di yaumul jaza, amiin.***

0 komentar