Rena. Begitulah
orang-orang
memanggilkudengansebutansingkat.Tinggiku tak kurang dari seratus enam puluh lima sentimeter.
Akulah penuntut ilmu di jenjang putih biru.Menurutku hari Senin adalah hari geram.Hari
yang membuat
kelakuanku diacungi jempol. Maksudnya jempol
yang terbalik alias
pertanda ka-o atau kalah seperti lazimnya orang-orang bilang. Kelakuan yang
kuperbuat sejak pertama kali aku mengenal yang namanya PSAS. Kejadian yang
terus saja terulang. Entah sampai kapan aku mengalami kesulitan untuk
merubahnya. Hebatnya aku..hahaha. Yang kayak gini nih yang patut dicontoh.
Dicontoh oleh kutu buta yang seakan malas melewati rintangan hidup. Alias
sangat buruk jika dicontoh oleh insan muda seusiaku. Wajahku mungkin pantas
dicap sebagai WATADOS (WAjah TAnpa DOSa). So’alnya pas upacara bendera selesai
saat siswa-siswi bubar, aku malah santai-santai saja seperti tidak punya salah.
Lapangan sekolah terlihat ramai. Ada beberapa siswa yang juga kesiangan. Tapi
mereka santri. Dulu aku juga mondok tapi sekarang sudah tidak.Denganalasanpesantren dekat dengan rumah. Jadi pulang melulu. Mereka
tertangkap basah. Aku sih kayaknya tidak begitu so’alnya beda jalur masuk.
Pokoknya tiada yang bisa nandingin aku (khusus nax luar). Eittss, gak Cuma aku
sih, ada temenku yang sama-sama jadi buronan. Tapi itu juga gara-gara aku.
Sebenernya
aku juga yang salah sih. Aku bangun pukul tiga lebih lima belas dinihari (wih,
giat bener). Niatku hari ini berpuasa.Aku bergegas ke kamar mandi untuk
berwudlu lalu shalat tahajud meski kuberjalan agak sempoyongan. Gelagatnya sih
emang kayak “pejuang” yang takkan ketinggalan waktu. Aku makan sahur seadanya.
Sengaja orangtua tak kuberitahu aku akan berpuasa karena ingin bangun sendiri
tanpa dibangunkan mereka. Aku emang bangun sendiri sih, tapi karena semalam
tidur gak sengaja alias ketiduran jadi kayak gini. Di sofa lagi. Jangankan ngambil air wudlu
dulu, baca do’a sebelum tidur aja tidak. Beruntungnya aku tak ketinggalan waktu
sahur. Kali ini aku tidak merasa ngantuk. Biasanya tidurku seperti mengalahkan
sang putri tidur yang tak kunjung bangun. Setelah sahur aku bisa melaksanakan
beberapa aktivitas seperti menyapu dan ngepel. Ini jarang-jarang lho... ^_^
fuh!! Biasanya aku bangun tepat adzan shubuh berkumandang. Atau kalau tidak,
sudah iqamah. Huh...
***
“Rena,
sudah jam tujuh tuh ayo bangun, mau berangkat sekolah tidak?” Remang-remang ku dengar
suara mama dari luar. Gak terlalu keras dan gak terlalu jelas. Tapi aku tak
menghiraukannya. Kursilah yang biasa menemaniku membuat anyaman bulu mata alias
tidur kérék nyengrék.
Selang beberapa menit...
“Dek
Rena....”
O’ow,, kurasa Dita memanggilku. Aku tak
menyahut. Aduh, gelap. Ngantuk. Huaahhh...
Mungkin Dita bicara dengan mama. Ah, biarin
lah masih pagi ini. Mungkin dia akan pergi duluan.
“Renaaaa....!!!” Bentak mama.
“Iy..iya ma, iya...” Aku ngomel-ngomel gak karuan. Dan gak sadar. Lalu
tubuhku jatuh lagi di sofa.
“Daritadi dibangunin susah banget, tuh udah jam tujuh lebih. Dita sudah
menunggu!” Bentaknya lagi. Kali ini suara itu bukan dari luar. Tapi beberapa
meter dari pembaringanku. Ya, sofa berwarna merah marun yang tertata indah di
ruang tamu. Meskipun suara mama sudah mulai lampu kuning, aku masih tenggelam
dalam impian.
Sekitar dua jam yang lalu, pagi hariyang gelap masih menyelimuti langit
yang gulitanya digusur oleh sang mentari yang bersemangat.Sepulang mengaji
shubuh, aku menjatuhkan tubuh ke pembaringan. Niatku memang sudah muncul dari
sejak di pengajian. Tidur sebentar. Ingat, “sebentar!” Tiga puluh menit
sepertinya cukup. Begitu lama yang menurutku terasa sebentar. Aku bilang pada mama
untuk membangunkanku pukul tujuh pas. Aku tahu mama membangunkanku. Tapi sekali
lagi kebiasaan burukku muncul. Susah dibangunin. Sadar gak sadar entah apa yang
aku ucapkan. Ku fikir lagi, sebentar ah lima sampai sepuluh menitan lagi aku
akan mandi.
“Reeennaa.....!!!
Masih belum bangun juga!” Rupanya intonasi mama sudah sampai pada la-si-doo.
Klimaks.
Sontak gurubag-gurubug aku bangun dan
terkejut. Padahal, lagi
enak-enaknya. Aku tak ingat apa yang sudah kukatakan pada mama saat belum
benar-benar siuman. Mau berjalan saja langsung jatuh karena kesemutan. Kesadaranku
masih enam puluh tujuh persen. Saat beberapa langkah kutempuh menuju kamar
mandi, mataku langsung melotot nyaris copot saat jam dinding ruang tengah jarum
panjangnya sudah menunjukkan angka enam dan jarum pendek pada angka delapan. Haahh..!!
Astaghfirulloh, alamak!! Gimana ini waktuuuu....
Di
kamar mandi tak kurang dari lima belas menit. Karena kesadaranku masih belum seratus persen. Dita semakin lama menunggu. Jarum jam terus
berlari. Hingga angkutan umum kunaiki pukul delapan.
“Aduh
Dita,, maafin aku ya gara-gara aku, kamu jadi telat.”
“Ya
gak apa-apa Dek, lagian aku pengen pergi bareng.” Jawabnya singkat tanpa
basa-basi lagi.Ya sudah, apa boleh buat kalau sudah begini.
Pertigaan
sudah terlihat. Sepi. Tak ada lagi siswa yang berkeliaran. Aku dan Dita turun
dari angkutan umum di pertigaan itu. Bentangan jalan yang kurang lebih seratus
lima puluh meter kami tempuh dengan langkah semu. Cepat tapi ragu. Terik mentari pagi ini
rasanya meledekku.
Dugaanku benar. Dari kejauhan, tepatnya di jalan raya kulihat sebagian
kepala manusia berjejer di lapangan yang tak terlalu tampak karena terhalang
oleh gerbang yang pasti sudah ditutup rapat. Kukira Senin minggu ini bukan
waktunya upacara bendera. Di sekolahku sudah lazim upacara bendera dilaksanakan
tiap dua minggu sekali bergilir dengan hafalan bersama. Rasa bingungku minta
ampun.
“Dit, bagaimana ini?” Tanyaku.
“Gimana yah Dek, aku juga bingung.” Ujarnya.
Akhirnya kami memilih berdiam diri di sebuah gubuk
kecil pinggir jalan.
“Apa
kita menunggu disini saja sampai selesai, Dit?” Tanyaku lagi. “Lantas, apa
boleh buat.”
Sekitar beberapa meter mata memandang, sebuah kendaraan bermotor leter zet
menghampiri keberadaanku dan Dita.
“O’ow,
sepertinya itu Bu Jeni, Ren.” Ujar Dita kaget.Kami saling menatap heran.
“Wayy..
gimana dong.” Tanyaku setengah berbisik.
“Ya
udah kita ikuti saja Ren.” Jawab Dita pelan.
Alamak, salah seorang guru kewirausahaan ini emang
nyaris cuek. Sedikit dingin tapi seolah menjadi konsultan dadakan bagi
anak-anak.
O’ow, ternyata itu bukan Bu Jeni tapi Bu Ira. Guru
PKN yang jika sedang mengajar kadang dimengerti anak-anak kadang juga tidak. “Tergantung
mood”kata salahsatu temanku. Ia langsung turun dari motor tepat di depan
gubuk tempat persembunyianku. Aku dan Dita berada di pinggirnya bukan di
depannya. Langkah semakin mendekati jalan menuju gubuk kecil yang sedikit
beraroma tak sedap. Oh tidak, Bu Ira ternyata bersama seorang siswa kelas delapan D. Ia berjalan di belakangnya. Dan
genaplah empat pasang kaki beraksi di atas jalanan beraspal. Aku, Dita, Bu Ira
dan anak kelas delapan D.
Selangkah
lagi kami tiba di gerbang sekolah yang masih tertutup. Anak delapan D belok kanan menuju toilet pria. Tinggal 3 orang tersisa. Kami hanya
berdiam diri di pinggir mobil Bapak Kepsek. Mobil yang diparkir diantara
gerbang dan halaman belakang kantor sekolah. Untungnya Bu pe-ka-en ini tak
menegur secara langsung atas kelakuanku dan Dita. Kami malah tersenyum
menyembunyikan rasa malu. Namun Ia tampak
biasa saja. Betapa tidak, ia juga mungkin merasa tidak menjadi contoh yang
baik. “Kesiangan”.Ooww,,hehe.
Tak
lama akhirnya Bu Ira melangkah menuju ruang guru. Ternyata gerbang terbuka. Berarti
tinggal dua pasang kaki yang berusaha menyetarakan badannya dengan ketinggian
mobil. Ya, Jongkok.Posisi yang pas buat keadaan. Kurang lebih lima
menit berlalu kami tak sedikit pun bergerak dari formasi. Oh tidak! Salah
seorang kiyai kerabat sekolah tiba-tiba menghampiri. Kiyai Haji Dayat.
Begitulah orang-orang memanggilnya. Sontak tingkahku bisa dibilang salah alias
salting.
“Kenapa
ini, kesiangan?” Katanya.
Aku dan Dita menatap kaget. Pertanyaan itu tak
kami jawab. Sudah kuduga pasti ia bertanya seperti itu. Aku malah sedikit
cengar-cengir masih dalam rangka menyembunyikan rasa malu. Sungguh tak ingin
lagi aku ditanya seperti itu. Intonasinya bukan rendah lagi. Namun tinggi
menyambar langit. Meski tak terbilang keras.
Setelah
aku memastikan upacara benar-benar selesai, akhirnya kuledakkan niatkuberjalan
menuju kerumunan orang. Orang-orang yang keringatnya belum kering. Keringat
yang tercucur saat terik mentari pagi menjemurnya di tengah lapangan. Mentari
begitu kejam. Rasanya aku ditertawakannya. Dag-dig-dug menemani pijakan
langkahku. Bersama teman sekaligus tetanggaku, Dita. Kulihat siswa-siswi yang lain
berjajar di lapangan. Siswa disuruh push up sedangkan siswi belum
ditindak lanjuti. Semuanya perintah Bapak kepsek. Apakah mereka juga kesiangan?
Tanyaku dalam hati. Tapi mungkin tak ada yang menyadari bahwa aku juga
kesiangan. Malah terlalu siang. Aku kan hebat,hahaha... Hebat kok jadi buronan L.
Sejurus
kemudian aku melempar tasku ke teras musholla puteri. Aku langsung jongkok lalu
duduk. Kini sudah tak bersama Dita lagi. Mungkin dia sudah ke lantai dua.
Kutarik tali sepatu sebelah kanan. Lalu sebelah kiri. Terbilang cepat. Tak lupa
pula melepas kaos kakinya. Gegas kuberdiri. Wajah dan gelagatku tak
mencerminkan kesalahan apapun. Tangga demi tangga kulangkahi tanpa ada yang
bisa menghentikan. Untunglah, aku tak kena hukuman, alhamdulillah,hahaha...
Tapi capek juga jadi buronan.
Ada
sedikit penyesalan di balik semuaya. Seandainya aku tidak tidur setelah pulang
mengaji tadi, mungkin hal ini takkan terjadi. Tapi buat apa menyesali hal yang
sudah terjadi. Hanya hikmah yang harus kita ambil. Mungkin semuanya sudah
diguratkan oleh-Nya di lauhul mahfudz. Aku harus berusaha untuk mengubahnya
supaya hal itu tak terjadi lagi. Berusaha giat dan gesit. Walau rasanya sangat
sulit kulakukan.
Semangat untuk hidup!!! Tawakkal dan syaja’ah melawan arus
waktu yang terasa sangat cepat berlalu. Kumpulkan dan kerahkan semua kemampuan
fisik dan mental di setiap aliran darah. Aku ingin menjadi manusia
sesungguhnya. Menjadi wanita yang senantiasa selalu berada dalam koridor
syari’at agama. Menjadi ibu sebagai figur bagi anak-anakku kelak. Menjadi
isteri sholehah yang menjaga kehormatan suami.
Menjadi sosok Sayyidatina Khodijah modern yang kreatif, berbudi pekerti
luhur, dan memiliki kekuatan iman dan mendawamkan segala amal ibadah. Agar
mendapatkan sesuatu yang dicari. Mardlotillah dan Sang Pencipta. Allah
yang Maha Menciptakan. Sesuatu yang dirindukan yakni Rasulullah SAW sang
panutan alam. Semoga aku tabah, sabar dan tawakkal dalam proses
pencarian jati diriku sebenarnya. Aamiin ya dzal jalaali wal-ikraaam...