Maaf !!!


Maaf, mungkin aku tak seindah permata yang dulu pernah kau miliki. Aku emang tak sebaik peri hati yang membuatmu tersenyum. Aku hanya seorang  ‘abdulloh  yang menginginkan kekuatan bathin untuk semangat dalam menatap  jalan yang penuh dengan kerikil. Jalan yang tak selalu mulus. Kehidupan yang tak tentu keadaannya.
Aku tau permata itu mungkin masih bersinar di relungmu. Permata itu masih menjadi bayang  semu di setiap gerak-gerik langkah yang kau tempuh. Sinarnya masih cerah di setiap hembus nafasmu. Selalu menerangi ketika dirimu terjerat oleh gelapnya kegelisahan. Aku menyadari… Aku tak lebih dari seorang wanita yang ingin kau jadikan air untuk kehidupanmu. Air yang senantiasa menjadi sumber kehidupan. Aku tak ingin jadi permatamu, karena permata hanya bisa  menyinari dan dinikmati keindahannya. Walau aku tak seindah permata yang cari, tapi aku ingin berguna bagi hidupmu. Mungkin permata dahulu itu masih menyelinap di ranah benakmu. Aku hanya terserah padamu. Antara memelihara dan membuangnya. Namun, aku masih tak mengerti. Mengapa rasanya aku terserang penyakit yang begitu menyiksa bathin? Aku mungkin iri bisa  membayangkan permata itu selalu membuatmu tersenyum. Ia mungkin bisa memberimu sejuta butiran kebahagiaan. Aku lelah ketika aku sadar bahwa aku hanya memberimu sesiram tinta hitam yang membuatmu gulita di ranah qalbu. Mungkin aku tak seperti wanita yang kau idamkan.
Resahku menghantam jiwa. Aku penasaran sosok permatamu sesungguhnya. Aku  begitu kalut. Entah apa yang sedang melanda qalbu saat gaibnya asmara menerkaku. Alur kisah menguntit nafsu. Apa yang ia rasakan sehingga ucapannya bertolak belakang dengan keinginan hati. Aku hanya bisa pasrah dan meminta pada-Nya ingin dihilangkan perasaan yang begitu menerka di vase/usia ini. Dan meminta semoga aku senantiasa berada di area syari’at agama yang Allah ridloi. Mudah-mudahan aku juga muslimin muslimat sekalian mendapat lindungan dan maghfiroh Allah SWT, amiin,, Allohumma Ya Dzal Jalaali Wal Ikroom,,.**

(Entah cerita atau keadaan)

0 komentar