Maaf, mungkin aku tak seindah permata yang dulu pernah kau
miliki. Aku emang tak sebaik peri hati yang membuatmu tersenyum. Aku hanya
seorang ‘abdulloh yang
menginginkan kekuatan bathin untuk semangat dalam menatap jalan yang penuh dengan kerikil. Jalan yang
tak selalu mulus. Kehidupan yang tak tentu keadaannya.
Aku tau
permata itu mungkin masih bersinar di relungmu. Permata itu masih menjadi
bayang semu di setiap gerak-gerik
langkah yang kau tempuh. Sinarnya masih cerah di setiap hembus nafasmu. Selalu
menerangi ketika dirimu terjerat oleh gelapnya kegelisahan. Aku menyadari… Aku
tak lebih dari seorang wanita yang ingin kau jadikan air untuk kehidupanmu. Air
yang senantiasa menjadi sumber kehidupan. Aku tak ingin jadi permatamu, karena
permata hanya bisa menyinari dan
dinikmati keindahannya. Walau aku tak seindah permata yang cari, tapi aku ingin
berguna bagi hidupmu. Mungkin permata dahulu itu masih menyelinap di ranah
benakmu. Aku hanya terserah padamu. Antara memelihara dan membuangnya. Namun,
aku masih tak mengerti. Mengapa rasanya aku terserang penyakit yang begitu
menyiksa bathin? Aku mungkin iri bisa membayangkan permata itu selalu membuatmu
tersenyum. Ia mungkin bisa memberimu sejuta butiran kebahagiaan. Aku lelah
ketika aku sadar bahwa aku hanya memberimu sesiram tinta hitam yang membuatmu
gulita di ranah qalbu. Mungkin aku tak seperti wanita yang kau idamkan.
Resahku
menghantam jiwa. Aku penasaran sosok permatamu sesungguhnya. Aku begitu kalut. Entah apa yang sedang melanda
qalbu saat gaibnya asmara menerkaku. Alur kisah menguntit nafsu. Apa yang ia
rasakan sehingga ucapannya bertolak belakang dengan keinginan hati. Aku hanya
bisa pasrah dan meminta pada-Nya ingin dihilangkan perasaan yang begitu menerka
di vase/usia ini. Dan meminta semoga aku senantiasa berada di area syari’at
agama yang Allah ridloi. Mudah-mudahan aku juga muslimin muslimat sekalian
mendapat lindungan dan maghfiroh Allah SWT, amiin,,
Allohumma Ya Dzal Jalaali Wal Ikroom,,.**
(Entah cerita atau keadaan)


0 komentar