Surat untuk Tenaga Medis



Foto From :
https://www.suara.com/news/2020/04/02/091730/perang-lawan-corona-suryo-prabowo-kita-jadi-garda-depan-bukan-dokter


Goresan yang kubingkis
Teruntuk para Tenaga Medis

Oleh : Tiya Taufiqoh


          Izinkan aku terlebih dahulu mewakili lisan yang bisu. Sendalu terus berhembus ke ulu. Rupanya kelabu tengah melanda manusia. Ada jerit, tangis, bimbang, panik, resah, dan pasrah.
Pahlawanku, ilmu kesehatan menjadi salah satu hal utama yang dianjurkan agama untuk mempelajarinya. Izinkanlah aku mengangkut jutaan rasa terimakasihku padamu. Namun  rupanya tidak akan ada yang bisa mengangkutnya sekalipun pesawat atau kapal air.
Pahawanku, izinkan aku memupuk benih cahaya harapan walau realitanya pundakmu nyaris terkelubak. Memikul ribuan jiwa yang setengah bernyawa. Tak bisa kubayangkan  lagi betapa totalitasnya jiwa ragamu terhadap manusia.
Tak bisa kubayangkan lagi betapa beratnya, betapa berkorbannya dirimu hingga tubuhmu sesak, berbekas, berkeringat akibat memakai Alat Pelindung Diri.
Covid-19 adalah seruan-Nya. Ia dikirim Sang Kuasa agar manusia sadar atas fitrahnya sebagai insan yang hidup semata-mata untuk beribadah kepada-Nya.
          Terimakasihku padamu untuk waktu, bulan, minggu, hari, jam, menit, bahkan detik yang kau persembahkan untuk membantu kesehatan manusia. Semoga peluhmu, keringatmu, pengorbananmu, dedikasimu, senantiasa tergantikan seindah yang tiada bisa dibayangkan dan diuraikan lagi oleh manusia, di dunia dan kehidupan setelahnya.
Pahlawanku, dengan sejuta cintaku padamu, semoga engkau rela seluruh jiwa raga, sederas air hujan. Dengan kasihku sedalam lautan, rela terhadap apa yang kau persembahkan kepada manusia dari semua jeri payahmu. Bagiku, engkau bukanlah manusia biasa, tetapi pahlawan bangsa.
          Aku mengenalnya, Covid-19. Ia adalah makhluk-Nya. Membumi-sadarkan fitrah manusia dengan adanya beberapa istilah dari saat kedatangannya sampai pada detik ini. Salah satunya yaitu karantina, isolasi, dan lockdown. Sang Kuasa mungkin geram kepada manusia yang mayoritas jauh darinya. Namun, tidak kepadamu duhai pahlawanku. Sejatinya engkau akan mendapat ganjaran atas apa yang kau persembahkan. Harapanku, engkau berwijaya dan  bercahaya atas pencapaian dunia medis. Lalu kelak kutunggu senyum keberhasilanmu bak mentari pagi. Namun, jika bertentangan dengan harapan, semoga engkau mendapatkan syahid dunia dan akhirat.
          Aku teringat seorang tokoh keperawatan, Florence Nightingle pada tahun 1870. Ia mengatakan “It will take 150 years for the world to see the kind of nursing I envision…”   
Perlu 150 tahun agar dunia bisa melihat “kebaikan” perawat, dan ini terjadi.
Maka sadarku menyahut. Alam bawah sadarku terguncang. Inilah saatnya. Manusia senantiasa sadar atas keberadaanmu, Tim Medis yang kusebut sebagai barisan depan.
          Pahlawanku, rekan bumi tempatku bernaung telah iba. Apa yang dikatakannya jelas benar bahwa pertiwiku sedang sakit. Semangatlah duhai para dokter, perawat, dan relawan. Yakinlah bahwa Corona pasti dipanggil-Nya. Mentari akan kembali tersenyum kepadamu, kepadaku, dan kepada manusia penghuni pertiwi.

Tertanda
Tiya taufiqoh.
Selesai :
Senin, 30 Maret 2020 pukul 18.00 WIB      
Bangunsirna, Desa Sukamaju Kec. Baregbeg Kab. Ciamis

0 komentar